Income From Your WEBSITE OR BLOG

WEBSITE OR BLOG

translate this blog

Senin, 28 Mei 2007

Kehidupan Kampung Halaman di Pati Jateng


Dari sebuah desa yang jauh dari kota Pati kira-2 6-7 km kearah kota Juana, disitulah aku dilahirkan 41 tahun yang lalu dengan pemberian nama dari kakekku. Namaku adalah NYAMAT di pelataran Indonesia memang cukup unik dan aneh. Dari tanya sana sini ama tetangga dan hasil investigasi ke mana-mana diperoleh asal usul nama, dari seorang pertapa perempuan (sejarah jawa) yang namanya "Ratukali Nyamat" yang punya obsesi bahwa dia butuh kepala Aryo Penangsang karena suaminya dibunuh olehnya. Mungkin dari ketegasan sikap dan kesabaran serta keteguhannya diambilnya namanya.

Desa itu bernama Purworejo yang mana desa ini terdiri dari beberapa dukuh, yaitu: Pondohan, Jetak, Kelingan, dan Guyangan. Sedangkan aku berada di dukuh Pondohan. Dari namanya aku gak begitu ngerti kenapa dukuh kami dinamakan Pondohan.

Aku sebenarnya dilahirkan 6 bersaudara, sedangka aku kelahiran ke-2 tapi nomor 3, karena kakakku kembar. Nama Bapakku: Suwardi, Ibu: Almh. Sawit, Aku punya kakak kembar laki-2 yaitu I, Alm. Sutowo, II, Alm. Sutawo dan Sutawi keduanya meninggal waktu masih kecil. Namun anehnya setelah aku menginjak umur 2 tahun (menurut cerita), aku diadopsi oleh Pakde saya namanya: Marto Mardi, katanya disebabkan kesundulan lahir adik saya, sedangkan aku masih kecil. Pakde menikah 2 kali, yang pertama punya anak perempuan dan pernikahannya ke-2 tidak dikaruniai anak. Aku mempunyai 2 orang adik perempuan yang kebetulah sudah menikah dan 1 adik laki sudah alm kira-2 kelas VI SD, Adik perempuan pertama namanya Darmi punya 2 orang anak laki-laki, sedangkan Adik perempuan kedua kemarin sempat hamil tapi waktu melahirkan bayinya meninggal.

Pakde punya anak perempuan satu-2nya dengan isteri pertama bernama Marsini (kakak). mBaknyu Marsini kawin sama KangMas Suwadi dari Dukuh Kelingan sampai sekarang sudah dikaruniai 3 orang anak. Anak yang pertama sudah kawin dengan laki-laki satu dukuh dan sudah punya anak lagi 1 orang (laki-2), anak yang nomor 2 (laki-2) hijrah ke Jakarta dan kawin ama orang Lampung sekarang sudah punya 3 orang anak, dan yang nomor 3 (laki-2) hijrah ke Merauke dan udah kawin ama transmigran asal Jawa dan sudah mempunyai 1 orang anak.

Bapak dan Ibu angkatku bekerja masing-masing sebagai Tukang (Batu dan Kayu) dan Buruh Tani. Dapat dibayangkan bahwa kehidupan kami saat itu sangat pas-pasan. Beruntunglah karena Bapak angkatku punya ambisi bahwa anaknya harus sekolah biar pintar dan dapat bekerja di instansi pemerintah. Sebenarnya kakek saya mengharapkan aku jadi guru, tapi nasib ternyata lain.

Sedangkan aku sendiri menghabiskan waktunya di Pondohan Pati sampai aku lulus SMA. SD ku di SDN Guyangan, SMP di SMP Ksatria Pati dan SMEA Nasional Pati Jurusan Tatabuku (sekarang Akuntansi). Pakde maunya aku sekolah setinggi mungkin sebagai bekal nantinya, tetapi hal klasik yang mengusik hati adalah masalah biaya. Logikanya mana mungkin seorang tukang dan buruh tani bisa menyekolahkan sampai sekolah yang tinggi, mustahil rasanya.

Suatu ketika ada pengumuman dari rekan-rekan dan teman-2 satu lulusan bahwa di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Jakarta) ada penerimaan mahasiswa baru, yang katanya sekolahnya gratis. Sempat membayangkan bahwa aku bisa sekolah lagi jika bisa masuk STAN dan kayaknya enak ya kok ada sekolah yang gratis. Akhirnya kukuatkan niat untuk ikut mendaftar bersama temen-2, dan dari hasil test masuk yang diterima dari rombongan Kabupaten Pati hanya 6 orang, 1 orang saya sendiri dari SMEA Nasional, M Sahari, Marsudi, Fuji Aman, Arif Subakir dari SMEA Negeri Pati dan 1 orang lagi dari SMA Negeri Pati yaitu Didit.

Wah ternyata Jakarta emang luar biasa...... next

0 comments: